Hariannetwork.com – Himpunan Mahasiswa Islam atau biasa disebut HMI merupakan organisasi mahasiswa yang bernafaskan islam dan bersifat independen tidak memihak dengan kelompok atau golongan tertentu. HMI sendiri didirikan pada tanggal 5 Februari 1947, tepatnya hari Rabu 14 Rabu’ul Awwal 1366 H. Berdirinya HMI diprakarsai oleh Lafran Pane (1922 – 1991) bertempat di Jogjakarta, tepatnya di Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta atau yang sekarang dikenal dengan Universitas Islam Indonesia.
Tepat pada tanggal 5 Februari 2023 lalu, HMI telah berusia 76 tahun. Hingga saat ini HMI masih memegang sebutan sebagai organisasi mahasiswa tertua, terbesar, dan berpengaruh di Indonesia. Begitu besar karena jaringan organisasi HMI sendiri kadernya meluas ke penjuru nusantara dan bahkan tersebar di berbagai negara (HMI Cabang Istimewa).
Umur HMI ke-76 tahun ini perlu kita refleksikan lagi, apakah sudah sesuai dengan tujuan dari HMI itu sendiri, yakni: “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adi makmur yang di-ridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala” atau belum. 10 tahun terakhir HMI menjadi organisasi yang hilang akan jati dirinya. Banyak kritikan dihujamkan pada HMI, baik karena perilaku kader, pengurus, maupun alumni-alumninya di luar sana. Bahkan mulai dari dekade 1980-an banyak tokoh yang menganalisis bahwa HMI sedang tidak baik-baik saja.
Baca Juga : Jangan Tinggalkan Perempuan Dari Revolusi Digital!
Dewasa ini juga sering kali kita dengar bahwa HMI bukan lagi Himpunan Mahasiswa Islam tetapi Himpunan Mahasiswa Indonesia. Hal tersebut dipicu karena nilai keislaman HMI sudah mulai memudar. Kita akui bersama bahwa para kader HMI merupakan orang yang intelektual dengan pemikiran progresif dan dialektikanya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan bacaan bukunya juga sangat banyak dan bervariasi. Akan tetapi, yang perlu kita ingat bahwa HMI bernafaskan islam. Islam di sini sebagai jantung dari perjuangan HMI, kalau tidak ada islam maka HMI itu sendiri mati seperti halnya makhluk hidup yang tidak bisa bernafas.
Tokoh sejarawan HMI yakni Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul menulis tentang 44 Indikator Kemunduran HMI. Beliau peka terhadap perkembangan HMI itu sendiri dan sampai pada akhirnya menulis sampai 44 indikator kemunduran, bahkan jika kita lihat pada bukunya akan menemukan lebih banyak lagi. Terkhusus tentang keislaman HMI, Agussalim menuliskan indikator tentang kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran islam di kalangan anggota dan pengurus. Mahasiswa yang baru masuk HMI dan mahasiswa yang sudah masuk HMI tidak ada bedanya (dalam hal keislaman). Hal tersebut, karena kurangnya pembinaan anggota HMI pada saat training formal maupun setelah training formal tentang keislaman. Para instruktur dinilai kurang memahami dan menghayati NDP HMI. Bisa dilihat setiap instruktur punya metode penyampaian masing-masing, sehingga sering keluar dari konteks dan terjadi reduksi pengetahuan.
Baca Juga : Organisasi Kampus di Ujung Tanduk
Penulis setelah melaksanakan LK II HMI Cabang Surakarta mendapatkan informasi baru yang didapat dari hasil sharing pengalaman. Ternyata di salah satu komisariat HMI Cabang Malang itu ada yang mengadakan Latihan Kader I tidak melewati screening terlebih dahulu sebelum forum. Hal tersebut membuat tahapan pengkaderan HMI menjadi bergoyah, karena screening merupakan tahap cukup vital sebelum memulai training formal. Di tahap training-lah kita diuji keislaman, keindonesiaan, keHMIan, dll. Hal di atas nantinya akan berpengaruh juga terhadap output kader dari Latihan Kader I. Kemudian berbicara tentang Latihan Kader I, ternyata semakin ke sini semakin singkat dalam penyampaian 5 materi wajib HMI. Contohnya pada saat penyampaian materi NDP seharusnya di pedoman pengkaderan 10 jam tetapi dipersingkat 6 jam serta materi SPI dan SPH seharusnya 6 jam dipersingkat menjadi 3 jam. Padahal materi-materi tersebut cukup penting untuk memperdalam keislaman para kader HMI.
Permasalahan-permasalahan di dalam pengelolaan training di HMI perlu disamaratakan semua, sehingga setiap output dari training formal di HMI itu sama. Kemudian, penekanan pada keislaman juga perlu ditingkatkan lagi bukan hanya sekedar memperkenalkan islam seperti apa, tetapi lebih detail lagi khususnya implementasinya. Hal tersebut dikarenakan saat mengikuti training formal HMI pembinaan dan pengawalan implementasi keislaman cukup kurang, sehingga keislaman kurang diperhatikan di situ. Pada akhirnya, apa yang kita dapat setelah mengikuti training formal tidak hanya teori saja tetapi juga kita terbentuk kebiasaan impelementasi dari teori-teori yang kita dapat khususnya keislaman.
Baca Juga : Organisasi dan Hal-Hal yang Tidak Selesai
Di HMI Cabang Semarang telah menguji coba penerapan program Qur’an Training. Qur’an Training merupakan program training untuk penuntasan lemahnya kader HMI terhadap baca tulis Qur’an. Dari Qur’an Training ini diterapkan pada semua training baik itu LK1, LK2, LKK, ataupun SC. Qur’an Training ini dilaksanakan setelah shalat subuh berjamaah dan otomatis para kader peserta training formal akan terpantau terus shalat subuhnya. Kegiatan seperti inilah yang diharapakan muncul disetiap training formal HMI, sehingga dalam keberjalanan training formal dapat terbentuk kebiasaan keislaman yang matang setelahnya. Pada akhirnya output dari setiap training formal dapat menciptakan kader-kader yang tidak jauh akan nafasnya yakni ISLAM.
*Dikutip dari berbagai sumber
Penulis : Muhammad Yanwar (Sekretaris Umum HMI Komisariat FISIP Undip)
Editor: Tim Redaksi















